I would never ever lie to you...
I would never run away from you...
I would never ever let you down...
I Would Never - Mocca feat Karolina Komstedt
Ketika hatimu ikut mengiyakan lirik lagu ini,
meyakinkan dirimu untuk would never run away from him...
Tapi sisi hatimu yang lain memrotes tindakanmu,
meragukan dirimu untuk survive dengannya, dalam keadaannya...
Manusia berubah.
Semuanya memang harus berubah. Dan tak ada yang pasti dari perubahan itu.
Insanity is doing the same thing over and over again and expecting a different result.
The only certainty is uncertainty.2 kutipan itu mendukungnya.
Albert Einstein bilang, gila adalah melakukan hal yang sama terus menerus dan mengharapkan hasil yang berbeda.
Satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri.
Jadi, semua memang harus berubah.
Entah untuk menjadi lebih baik, menjadi berbeda, menjadi apapun.
Tapi bagaimana perubahan ketika kau jatuh cinta?
Apakah sama? Apakah setiap orang yang jatuh cinta juga harus berubah?
Berubah menjadi tidak cinta lagi?
Aku hanya pelajar Sekolah Menengah.
Memangnya aku tahu apa itu cinta?
Memangnya aku benar merasakannya?
Yang aku tahu, aku jatuh cinta.
Jatuh cinta itu anugerah, kata beberapa orang dewasa.
Aku jatuh cinta dan aku merasa jatuh cinta itu indah ketika dia ada.
Aku merasa jatuh cinta itu indah ketika dia memandangku, bicara denganku, tersenyum padaku.
Aku merasa jatuh cinta itu indah ketika teleponku berbunyi dan itu dia.
Aku merasa jatuh cinta itu indah ketika aku berjalan dan dia ada di satu koridor denganku.
Aku merasa jatuh cinta itu indah ketika yang aku tahu, senyumnya, kehangatannya, kata-kata manisnya, obrolannya, hanya diperuntukkan untuk aku...
Yang aku tidak tahu, bahwa aku masih jatuh cinta tapi mengapa terasa beda?
Ketika aku mulai tahu, aku bukan satu-satunya yang mendapat perhatiannya.
Ketika aku mulai tahu, dia tidak selalu nyaman bersamaku.
Ketika aku mulai tahu, dia memilih sesuatu yang lain daripada diriku.
Ketika aku mulai tahu, bukan dia yang membuat teleponku berbunyi.
Ketika aku mulai tahu, mungkin dia tidak jatuh cinta seperti aku jatuh cinta padanya...
Mengapa teman-temanku bisa membuat jatuh cinta seperti permainan?
Tidak perlu banyak usaha untuk bertahan, kalau memang sudah bosan, tinggalkan dan cari yang lain.
Mengapa dia juga pernah begitu?
Tapi mengapa aku tidak bisa begitu?
Apakah anugerahku untuk jatuh cinta padanya terlalu banyak?
Apakah anugerah yang dimiliki dia untuk jatuh cinta harus dibagi untuk beberapa kali jatuh cinta?
Aku sering merasa salah jatuh cinta.
Aku sering merasa memberikan sesuatu yang terlalu baik pada orang yang salah.
Aku sering merasa terlalu bodoh untuk tidak melepas orang yang mulai tidak peduli padaku...
Namun, meskipun kau kini berubah.
Meskipun yang aku tahu sekarang bukan hanya yang indah-indah,
aku hanya akan mencoba...
bertahan.
Meski semakin banyak junior yang genit padamu.
Meski aku tidak tahu siapa lagi yang bicara denganmu seperti kau bicara denganku.
Meski porsimu bertemu aku semakin berkurang.
Meski obrolanmu tak seheboh dulu.
Meski kita tak tertawa bersama sebanyak dulu.
Meski aku tahu, kau jelas-jelas berubah.
Meski aku tahu, kau berbeda.
Meski aku tahu, kita tidak seperti dulu...
Entahlah. Aku tidak bisa seperti mereka.
Yang begitu saja melepas seseorang yang katanya disayanginya.
Yang begitu saja mencari orang lagi dan bilang aku sayang kamu lagi.
Ketika saat itu aku bilang, aku juga menyayangimu, maka aku benar-benar menyayangimu.
Tidakkah sia-sia jika aku merelakanmu begitu saja?
Karena aku harus menerima konsekuensi jika ada yang tidak indah dari jatuh cinta padamu.
Karena aku............ menyayangimu.