Saturday, January 19, 2019

Polaris

Polaris

Kalau dilihat dari tren desain, desain-desain galaxy gini hits banget di tahun-tahun 2011-2013. Dari wallpaper, case handphone sampai... baju!

Di tahun 2012, aku masih jadi salah satu murid yang ikut matrikulasi olimpiade astronomi. Tak seindah gambar galaxy ala-ala tumblr. Skill matematika dan fisikaku yang payah membuatku harus berjuang lebih keras disini~
Tapi tak apa, ilmu itu nggak pernah sia-sia.

Di tahun ini pula, aku bertemu Polaris. Polaris, bintang utara, bintang yang selalu ada di titik yang sama. Polaris tak berpindah karena dia menandai lokasi sumbu utara bumi. Ketika bumi berputar, bintang lain bergantian menyinari malam kita, Polaris tetap, disitu. Dia hanya bergerak 3/4 derajat dari titik selestial utara, membentuk lingkarannya sendiri.

"Dia" adalah Polaris. Tahu bintang paling terang di langit? Bintang paling terang di langit adalah Sirius.
"...dan Bahwasanya Dialah Tuhan (yang memiliki) bintang syi'ra" Q.S [53]:49.

Dia mungkin bukan Sirius, karena aku akan selalu punya hal lain yg bersinar paling terang dalam malamku. Mungkin hari ini Sirius-ku adalah Hyun Bin karena habis nonton dramanya. Bisa jadi, besok Sirius-ku sesederhana satu buah cupcake karena lagi pengen. Entahlah kita semua punya satu hal yg menjadi fokus utama kehidupan dan itu sering berubah kan?

Polaris tidak selalu menjadi bintang paling terang. Tapi dia selalu ada di situ, satu titik di utara langit malamku. Polaris bersinar. Selalu. Untuk menunjukkanku arah utara yang benar, bisa jadi, untuk menunjukkan ku arah jalan pulang.

Dan sepertinya, dia lah Polarisku.

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1920

Egois

Katanya, salah satu traitsnya Aries tuh egois. Wkwkwk. Aku nggak tau sih bener atau ngga traits dari zodiak-zodiak gitu, cuman emang suka ngepas aja... hahaha.

Terlepas dari traits zodiak, aku pernah diforum krn menurut temen2 ku aku egois wkwkw. Tapi aku nggak mengelak juga kalo punya sifat egois. Yaa semua manusia pasti punya perasaan egois tinggal kadarnya aja kan~ sepertinya kadarku lumayan lah, dan ini berbanding lurus dengan sifat perfeksionis~

Kalo udah mau A, harus A. Walau pada realitanya nggak se saklek itu juga sih. Intinya mah kalo udah pingin sesuatu sebisa mungkin pasti dikejar. Mungkin karena ini kali ya egonya tinggi~ entahlah aku bukan ahli psikologi dan kadangkala masih salah juga mengenali diri sendiri.

But I do realize that I'm annoying hahahah. Tapi yang lebih ngeselin lagi, setelah berbuat hal menyebalkan yg disebabkan oleh kesalahan sendiri, setelah itu aku bakal nangis-nangis sendiri juga menyesalinya. Kalo dipikir-pikir ngeselin banget kan ya? Wkwkwk.

Cuman ya.. kadang kita tuh terlalu terpaku pada stereotype. Apalagi kalo traits zodiak la, golongan darah la, shio la, terlalu dibawa-bawa. Contoh, banyak yg bilang aries tuh egois. Bukan berarti egoisnya pada semua aspek. Menurutku setiap aspek dari sifat manusia itu bisa membangun. Kalo egois untuk fokus pada tujuan dan biar nggak nyabang kemana-mana, dalam arti bagus kan egoisnya.

Mengakui kekurangan diri itu justru bisa jadi kekuatan. Ya termasuk mengakui kalo kadang ego diri sendiri lumayan besar. Aku udah sangat biasa dikatain jenong, pesek, dll. Biasanya kalo dikatain gak punya hidung ku jawab "iya kalo w kucing w tuh mahal gaada idungnya"

Gitu deh... wkwkwk karena mau diapain juga kita akan selalu punya kekurangan. Dan kekurangan itu bakal diekspose terus sama orang lain. Mau nggak mau kita harus mengakui dan bisa dijadiin kekuatan, ubah itu jadi sesuatu untuk konteks yang baik~

Hiyahiya mungkinkah ini aku hanya cerita berkedok pembelaan karena abis bikin salah? Wkwkwk

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1919

Friday, January 18, 2019

Social Media is Toxic, or You?

Dulu aku pernah bilang kalau... yah medsos tuh tempat pamer. Pamer apapun. Kekayaan, pengetahuan, kebahagiaan, kesuksesan. But then I got some enlightment that maybe "sharing" is better than "show off". Ketika kita menganggap seseorang itu pamer (walaupun emang ada jg yg niatnya begitu), itu adalah anggapan dari kita sendiri. Kalo kita nggak kenal orang yg post IRL, kita nggak tahu motivasi/niat dia. Mungkin dia nggak pernah bermaksud pamer.

Media sosial itu tempat sharing. Dan sejatinya, dari yang bikin, medsos nggak toxic. Toxic-enggaknya tergantung kita, usernya. Kalo follow gosip sama akun hoax ya gimana gak toxic. Kalo scroll feed terus sampe abis and doing nothing, ya toxic.

Kalau ngelihat orang lain dan langsung nyinyir, siapa tau diri kita sendiri yang toxic? Idk, kalo udah ada akun yg menurutku toxic, nggak guna dan mungkin secara pribadi mengganggu aku, I simply block, unfollow atau kalo mau alus ya dimute juga bisa kan~ (kalo di instagram nih)

Nyatanya, banyak orang yg jadi punya kesempatan lewat media sosial. Tadinya usahanya mau bangkrut, berkat medsos jadi punya wadah untuk promosi dan akhirnya bertahan. Medsos bisa mempertemukanmu sama orang-orang keren. Medsos bisa bikin kamu dinotice oleh orang yg keren kalo kamu bisa posting sesuatu yang bagus dan berguna di akunmu.

"Tapi masih suka muncul postingan nggak bener kalau buka explore"
Yaaah explore itu algoritmanya dari aktivitas kita juga kok. Makin sering kepo dan ngelike yang ga bener, ya makin banyak juga tu keluar di explore.

Salah satu siasatku buat mengurangi hal negatif adalah dengan follow akun bagus sebanyak-banyaknya. Kalo aku, gak masalah following lebih banyak dr followers yg penting feedsku isinya berfaedah. Walau yg receh jg banyak wkwk. Pokoknya I do follow anything that inspire, educate and entertain me. Simpel.

Well social media is man-made. Simply, they are robot. We can control them.
Is social media toxic? Or maybe it is you?

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1918

STOOPP

"Si ini sekarang udah kerja disini loh. Dia konsultan gede gt pusatnya di Amrik. Keren nggak sih"
"Oh ya PNS udah pengumuman ya. Si itu keterima tuh di pusat lalala"
"Eh cobain ini yuk, bisnis barunya si dia. Sekarang buka cafe tuh"
"Dia udah kuliah lagi nggak sih di luar negeri dapet beasiswa?"
"Wahh si itu dan si anu mau nikah. Ah dia mah enak cowonya udah lalalala, kapan nyusul ya"

Pasti sering nggak sih denger ucapan itu semua, apalagi di masa-masa baru lulus, atau beberapa waktu habis lulus. Semua kabar itu datang baik dari mulut orang lain maupun dari pikiran sendiri waktu buka medsos.

Pernah nggak sih rasanya mau nyetop semua omongan kayak gitu?
Kayak... stop. Stop. Plis stop.
Lagi nggak mau tahu kabar (kesuksesan) orang lain. Jadi merasa diriku menyedihkan.

Well the answer is NO. YOU CAN'T STOP IT.
Maaf, sayangnya bumi nggak cuma berputar dan diisi oleh diri kita seorang.
It's our own self who can STOP it.
Kalau capek kenapa orang lain sukses terus sedangkan kita nggak, then do something.

Become more active, read more, move more, think more, upgrade your skills, upgrade yourself. You can't doing the same thing everyday and expect different result. It's impossible.

Tapi, beberapa orang memang punya kecemasan dan ketakutan yang diluar batas seharusnya. Kecemasan dan ketakutan ini mungkin sangat mengganggu sampai mereka nggak bisa menjalankan aktivitasnya dengan normal.

Anxiety or any other mental disorders. Orang2 ini mungkin emang merasakan "gangguan" dan bukan untuk dijudge, tapi mereka butuh bantuan. Mungkin ada yang benar-benar lelah dengan hiruk pikuk dunia dan energinya terkuras krn memikirkan hal-hal yang mungkin ya.. nggak terjadi. Hal yang mungkin hanya ketakutannya aja.

They do need help.

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1917

Wednesday, January 16, 2019

Granada

Selamat malam~
Jadiii ceritanyaaaa... daku sedang nonton "Memories of Alhambra" yang mana... bagus banget! Tapi aku nggak mau cerita soal dramanya hehehe. Mau cerita latarnya 😏

Satu hal yang bikin cinta banget sama drama ini adalah shooting di Granada dong... Granada... kepikiran juga ya penulis skenarionya. Kacau! Pertama kali ku tau dan kepo Kota Granada waktu baca "99 Cahaya di Langit Eropa" nya Hanum Rais. Aku inget baca itu sekitar Tahun 2011, kelas 1 SMA bacanya waktu pelajaran kimia pula... krn ya... jalan-jalan ke Eropa pasti lebih menarik dong! Wkwkwk. Ini masa-masanya aku sangat ambiz ngomongin soal Yurop 🙂

Yang bikin terpana sama Granada tuh jelas lah ya, Istana Alhambranya. Waktu baca bukunya aja udah kebayang gimana bagusnya! Lalu di drama ini mereka berkali-kali nge shoot Alhambra dan pemandangan Kota Granada dari Mirador San Nicolas! Kacau cinta banget pokoknya♡

Ngomongin soal Granada, jadi inget juga sama Cordoba (kalau di buku Hanum Rais). Sama-sama kota di Spanyol. Mereka pernah dikuasai baik oleh kekaisaran Islam maupun Katholik. Aku nggak tahu sih gimana kondisinya saat ini. Tapi satu yg aku inget, di Cordobanya ada bangunan yang bekas masjid sekaligus bekas gereja, tapi sekarang dipergunakan untuk museum. Katanya sih untuk menghormati kedua sejarah tersebut.

This is why I love Europe so much! Menurutku negara-negara di sana magical aja. Menyimpan banyak sejarah, budaya, banyak banget peradaban manusia berkembang di Eropa. Kalau pernah baca buku atau nonton filmnya Hanum Rais yang 99 Cahaya juga pasti cukup terheran-heran sih, jejak Islam, yang mungkin menurut sebagian orang hanya ada di Timur Tengah pun di Eropa juga ada. Banyak malah.

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1916

Sunday, January 13, 2019

Anak Pertama

Sebetulnya nggak mau kebanyakan ngulang post sidang kemarin tapi aku saangat bersyukur dan bahagia soo, please let me enjoy my moment ya :")

Terlahir sebagai anak pertama. Pasti banyak lah ya yang suka baca keluh kesah jadi anak pertama. Tapi aku gak cuma anak pertama, aku juga cucu pertama dan buyut pertama... jadi... kalau anak pertama harus sekuat apa, gimana jadi anak pertama, cucu pertama dan buyut pertama? :")

Itu dia kenapa... aku mungkin suka overexcited atau terlalu bahagia sama hal-hal yang buat orang lain biasa aja. Contohnya lulus sidang. Mungkin buat orang lain biasa (bahagia sih pasti tapi gak se lebay aku), tapi buat aku... lulus ini sesuatu banget. Mungkin juga krn aku yg pertama di generasiku.

Aku nggak pernah merasakan sosok "kakak". Bahkan kakak sepupu. Mau cerita sama om tante, kejauhan. Mereka udah terlampau dewasa. Mau cerita sama adik? Gengsi berat lah ya.
Kalo ada yg pernah baca cerita anak pertama, gimana harus selalu kuat, harus selalu senang, harus selalu bahagia dan harus selalu baik-baik saja... begitulah.

Aku harus rapat-rapat menyimpan kesulitanku krn aku nggak mau bikin orang tuaku kepikiran.
Aku akan selalu "nggak papa kok" karena merasa bertanggung jawab sama adik-adikku.
Aku merasa harus selalu bahagia krn aku tau beban orang-orang dewasa di keluargaku.
Harus mandiri? Jelas lah ya.
Memendam perasaan? Sering aku lakukan.

Aku akan lebih memilih pergi daripada harus terlihat marah dan nangis di rumah.
Aku selalu mencoba nggak ngeluh ke keluarga terutama orang tua.

Menjalani proses tugas akhir nggak hanya menguji kemampuan akademis. Menurutku lebih banyak menguji mental dan kedewasaan. Harus mengerjakan dengan benar, mulus, tanpa tempat cerita dan panutan di rumah itu... menjadi tantangan tersendiri.

Mungkin aku berlebihan, tapi aku bangga sama pencapaianku. Kita nggak bisa memilih dilahirkan jadi anak nomer berapa... tapi yg aku tahu, ketika kamu jadi yg pertama, maka kamu harus cukup kuat dan baik, setidaknya untuk adikmu sendiri.

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1913

Saturday, January 12, 2019

Bagaimana Jika

Ceritanya lagi nulis kata pengantar. Hehehe iya maaf ya masih seputaran TA aja karena emang kalo aku ceritain ini bisa jadi 2 bab kayaknya wakakak 😂

Oh ya terus disambungin sama tema cerita hari ini yaitu, "bagaimana jika"...

Ketika kita nulis kata pengantar (nggak cuman untuk TA). Kita seringkali bakal merasa bersyukur sekali karena sudah mencapai satu titik dan berhasil menyelesaikan sesuatu. Kita jadi merasa berterimakasih pada semua orang, kita mengingat kebaikan-kebaikan orang yang sudah membantu kita.

Lalu, BAGAIMANA JIKA...
kita melakukan ini lebih sering dalam hidup? Bagaimana jika kita lebih sering berterima kasih pada orang lain? Bagaimana jika kita lebih sering mengingat kebaikan orang lain daripada terus mengungkit kesalahannya? Bagaimana jika... kita bisa lebih sering berfikir positif tentang orang lain seperti saat kita sedang menulis kata pengantar?

Bukankah lalu akan kita sadari, kalau ternyata banyak kebaikan yang selama ini datang ke hidup kita? Dan seringkali kebaikan itu kita sia-sia kan?

Bagaimana jika... kita berterimakasih lebih sering dan memikirkan kebaikan lebih sering.

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1912

Belum Move On

Sebenernya inget mau cerita... tapi entah kenapa kemarin rasanya belum pingin ngupload foto baru wkwkwk.

Masih bahagia sama momen tanggal 10 dan mau biarin foto itu tetep mejeng dulu aja di feeds tanpa ditumpuk yang lain wkwk:")

Rasanyaa susah move on (as always) wkwk. Padahal goalsnya gak sebatas selesai sidang aja... tapi rasanya masih pingin menikmati momen-momen bahagia. Ngeliatin bunga pun rasanya nggak rela kalau mereka layu wkwkw lebay ya :")

Alhamdulillah
Alhamdulillah
Alhamdulillah
Emang bener kalo semua Allah yang bikin skenario pasti akan lebih bagus 💕

Terimakasihh ya untuk semuanya yg sudah membantu aku... baik selama proses ngerjain TA, bantuan moral, doa, sampai ke hari H sidang akhir. Semoga semua kebaikan kalian dibalas berkali-kali lipat... Aamiin!

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1911

Thursday, January 10, 2019

Autonangis

"Alhamdulillah aku udah dapet jadwal sidang, Kamis 10 Januari jam 10.00"
Chatku di grup wa keluarga.

"Alhamdulillah"
"Kalau sidang gitu ada orang tua yang datang nggak, Mbak?"
"He? Yaaa gak ada bu... langsung wisuda aja. Lagian kan pada anak rantau orang tuanya gak disini"
"Oo yasudah nanti temenmu aja ya yang support ke kampus"
Ok 👌

Kira-kira begitulah percakapan wa dengan Ibu seminggu yang lalu.

Hari ini ada tiga hal yang bikin auto nangis wkwk.

Satu.
Waktu turun dari ruang sidang, tiba-tiba ada Bapak sama Ibu... yang langsung menghampiriku dengan pelukan dan ciuman. Posisi waktu itu sudah ramai dengan teman2... kaget, malu (berasa diambilin rapotnya) tapi auto nangis. Wkwkwk. Dasar. Tapi aku harus bersyukur krn ga semua orang masih bisa foto lengkap sama orang tuanya kaya gini :")

Dua.
Adikku video call. Kirain mau ngucapin aja kan (geer), tiba2 kameranya menunjukkan muka bapak-bapak yg nggak asing... tapi aku mikir... dan... "Pak Tardi!" Guru kelas 6 SD ku :") SD ku di pinggiran, nggak ada kelas paralel. Muridnya dikit. Waktu SD aku dibully jadi aku deket sama guruku... (bukan buat wadul tp ya wakaka). Waktu guruku liat mukaku pertama kali, beliau langsung nutup mulut dengan ekspresi kaget seperti nggak percaya....... dan akupun auto nangis utk yg kedua di hari ini. Aku nggak tau mau ngomong apa. Cuma berkali2 nanya "Bapak sehat? Bapak gimana kabarnya?" Aku flashback gmn perjuangan ngadepin bullyan jaman SD smp trs berjuang masuk SMP yg super jauh dan lingkungannya super beda. Can't believe it been years ago and seeing where I am now.... :")

Tiga.
Dapet kado dari Rasyid. Jd selama ini aku merasa dia udah eneg dg segala macam angan2 ku tentang going abroad, going to Paris, to anywhere in the world. Tiba2 dia ngasih hadiah buku yg isinya semacam tips beasiswa and how to going abroad... I'd never thought that he's actually very supportive about my dream. But what make me cry most is... he give my handwriting from 2013 plus our photos, my progress of this thesis journey and our first photo together.

Akhir-akhir ini aku suka ngerasa hrs jd orang yg logis dan kuat. Sbg manusia yg terkenal baper an dan galau an, tahun ini aku memaksa untuk kurang2 in banyak hal yg berbau perasaan. Aku gamau ngerasa kangen. Gamau lagi flashback2 gapenting, gamau bucin2... gamau menye... pokoknya gmn caranya mau produktif produktif dan produktif aja. Kalo nangis ya nangisin TA aja.

Hari ini semuanya pecah.... wkwkwk. Berbulan2 gak pernah ktm orang tua tiba2 mereka muncul stlh aku selesai sidang...
Lagi sering banding2 in diri sm orang lain, tb2 diingatkan sm seseorang dr masa lalu tentang seberapa jauh aku sudah berjalan...
Pasang2 quote independent strong woman blablabla gak mau bucin, dikasih liat memories langsung bubar...

Thanks for bringing back my inner tenderheart wkwkwk

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1910

Tuesday, January 08, 2019

Film Keluarga Cemara dari Perspektif yang Lain

Mari kita bahas yang lagi hits, film Keluarga Cemara. Jujur aku sebel karena gak nangis sesenggukan seperti yang ku bayangkan wkwkwkw. Entah kenap kalo udah diwarning sebuah film bakal bikin nangis bukannya menghayati tapi malah nyari-nyari "mana nih nangisnya". Jadi nangisnya kurang mantap ☹

Iya, jadi... aku gak tau sih kenapa bisa berfikir kaya gini. Tapi setelah nonton keluarga cemara, yang aku pikir lebih jauh bukan sedih-sedihnya tapi malah tentang "kemerdekaan finansial" lol. Entah apa karena lagi kerasukan Jouska atau karena aku juga lagi pusing soal finansial.

Dulu aku pernah ngetik:
• Some people are born in a family with gold mine in their backyard.
• Some people are born in a family whose only equip them with backpack and map to find the gold mine.
• And some others are born in a family that can't equip them with neither bag nor map to mine the gold.

Kayaknya lahir di keluarga pertama enak ya. Ibarat jadi Nick Young. Mau beli apa aja juga tinggal ambil duit di rumah. Tapi tanggung jawab dia untuk menjaga kekayaan keluarga itu juga gak gampang. Beda sama Rachel Chu, bisa masuk keluarga golongan kedua atau bahkan ketiga. Harus struggle buat sekolah sampai S3 biar cukup punya duit buat beli baju di GAP dan bertahan di New York.

(Kok jadi Keluarga Cemara x Crazy Rich Asian gini ya?!)

Oke balik lagi, jadi konflik utama keluarga cemara muncul karena masalah finansial yang... mungkin itu diluar dugaan ya. Itu sangat mungkin terjadi juga sama orang-orang yang terlahir dari keluarga pertama kalau mereka gak menjaga gold mine nya dengan hati-hati.

Aku bahkan sempet mikir, sama sekali nggak adakah sisa saving yang dimiliki abah dan emak untuk bertahan? at least menurunkan lifestyle tapi tetap hidup di tempat yang sama?

Walaupun aku cewek, tapi cukup insecure juga gimana ya bisa merdeka secara finansial?

Yaa kalo ngomongin takdir emang sih, kena musibah atau bencana, Allah nggak akan memberikan cobaan/musibah diluar kemampuan hambaNya.

Tapi nggak munafik juga kalo kita butuh uang kan? Hehehe.

Menurutku abah masih lumayan lah, punya sedikit warisan dari orang tuanya. Nah tapi kan gak semua orang dapet warisan. Hayo. Wkwkw.

Jadi... unpopular message setelah nonton keluarga cemara: nabung gais. Kita gak akan pernah tahu di depan ada apa :")

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1909

Jalan

Tema bercerita hari ini adalah "jalan" dan sejujurnya lagi gak punya pikiran untuk nulis judul yg lebih bagus atau dramatis jadi yaudah "jalan" aja.

Sebenernya bingung juga sih mau cerita apa, karena tema jalan ini bisa berarti banyak hal buat aku. Jalan menuju cita2, jalan kenangan(?) Dll...

Tapi malam ini ku pilih foto yg major flashback sekitar 3 atau 4 tahun yang lalu. Ketika aku jalan mendaki gunung... Gunung Prau. Kayaknya sih gunung ketiga jadi bukan first time naik gunung. Tapi kesini cukup challenging juga karena ruaaame puool dan harus bawa stock air sesuai hari karena diatas gak ada sumber air :(

#Majorflashback ini juga gara2 lagi kangen banget naik gunung ataupun piknik berbau-bau alam. Aku suka jalan-jalan ke tempat yg gaada sinyal. Ku suka naik gunung krn ujung-ujungnya kita ngobrol, bukan main hape.

Kalo jalan di kota paling ngapain sih? Nonton bioskop... jalan ke mall.. kalo gapunya duit ya window shopping doang. Makan di tempat hits. Terus foto-foto. Terus abis makan sibuk ngedit foto sama main instastory. Terus balesin medsos masing2. Ngobrolnya dikit...

Jadi kangen jalan ke tempat yang susah sinyal... mau gak mau bakal ngobrol langsung sama orang disampingmu. Kalo bosen ngobrol, bisa nyanyi-nyanyi. Bosen nyanyi bisa main game, bisa api unggunan... bisa interaksi yang "sesungguhnya".

Semoga bisa segera jalan-jalan lagi ke tempat yang gak ada sinyal! Amin!

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1908

Monday, January 07, 2019

Planning in Our Neighbor Country

I know that I've been talk about planning and Singapore (maybe several times).
But I think I haven't post any photo relate to this one 😁

Soooo, going to URA feels like having another KKL independently lol. I mean URA exist literally for giving knowledge about what, who, where, when and how urban planning is done in Singapore.

One thing that amazed me for the first time is their entire-country-3d-model. Sometimes I consider they lucky to have such a small area and not having 250 millions people like we had here, it's simply easier to manage and built 😂

After being a big fan of Europe countries, I start to take a look more in Asian countries. The nearest and the nicest one of course Singapore. Despite all the luxury outlets, their built-environment and entertainment, I'm curious how can people in a country could have similar commitment to keep their country as it should be.

Their cleanliness, their greens, fresh air, tidy space, high-tech system and infrastructure couldn't made up the city without community engagement.

Sometimes I wonder how could community engagement in our place contribute to better planning and creating liveable cities. Since we all know, that recently our people is easily triggered by political, race, ethnic, religion and group issues. Eventhough this not happen to all of us. We still have a lot of productive and great citizens that works day and night to make our country better. But if we see in the percentage, how much people in the 1st group (the easily triggered one) and how much in the 2nd group (the productive one).

Since it's already 2019, the year of election, I'm praying that our nation will be less conflict, more peace and more unity. May Indonesia always protected by the Almighty and we all as Indonesians could contribute more to make our country better place.

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1907

Sunday, January 06, 2019

It's a Small World After All

Denting gelas kaca yang diaduk
Suara es batu disendok
Suara air dituang
Suara sendok menyentuh piring
Suara orang-orang bercengkrama
Dan playlist instrumen piano milik sebuah kafe menjadi backsound aku menulis cerita hari ini. Biar kayak backsound podcast gituuu~

Perbincangan malam ini agak berat. Tentang dunia setelah lulus kuliah.
Semakin banyak pilihan, semakin banyak tuntutan. Bahan kepo malam ini berasal dari Linked In.

Dari liat-liat 1st connection sampe akhirnya nyasar ke 3rd connection yang bikin decak kagum dan,
"Wow kerennya"
"Gila sangar banget"
"Parah aku gaada apa-apanya" karena melihat orang-orang berkarir cemerlang. Apalagi ketika orang-orang ini bergender perempuan dan dalam usia yang nggak terpaut jauh sama aku. Rasanya jadi sangat ter-trigger. Merasa aku gak ngapa-ngapain wkwkw.

Sementara akuuu? Hadeuh gak ada apa-apanya. Jangankan mencantumkan perusahaan kelas dunia dalam experience, page yang ada aja page yang bikin sendiri karena ya emang ada usaha sendiri yang belum seberapa :")

Oh ya udah gitu orang-orang keren yang aku kepoin di Linked In banyak juga orang-orang yang aku tahu. Semakin bikin aku merasa gak ngapa-ngapain di hidup ini wkwkwk. Melihat mereka rasanya aku begitu kecil, jangankan dinotice perusahaan, dinotice temen lama aja mungkin enggak begitu wkwk.

Tapi aku jadi mikir... mau ngejar dunia sekenceng apapun. Uang sebanyak apapun, posisi setinggi apapun, perusahaan sebesar apapun, pada akhirnya dunia yang kita tempati sekarang memang kecil. Dunia ini kecil. It's a small world after all.

Ada tanggung jawab yang jauh lebih besar setelah kita hengkang dari bumi ini :")

Apalagi dengan banyaknya kejadian bencana dan kerusakan yang makin hari makin ada aja... takut sih hehe. Rasanya masih pingin ngejar dunia aja tapi kok ya akan ada hal lebih besar menanti. Dan itu bisa datang ke kita kapan aja karena kita bisa mati kapan aja :")

Semoga dan semoga Kau izinkan untuk bermanfaat untuk dunia ini dulu sebelum Kau panggil untuk dunia yang lain lagi yaAllah...

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1906

Saturday, January 05, 2019

Mimpi

Mimpi

Kenapa sih manusia bermimpi?
Kenapa aku ingin begini, aku ingin begitu, ingin ini ingin itu banyak sekali?
.....
Lanjut gak nih? Wkwkwk

Semua semua semua
Dapat dikabulkan
Dapat dikabulkan dengan usaha dan doa~

Dream keeps people alive. Aku mau melakukan apapun yang ada di hadapanku saat ini karena aku masih punya mimpi-mimpi yang belum terwujud. Sesuatu yang aku kerjakan setiap hari, ku anggap sebagai tahap demi tahap untuk mencapai mimpi~

Ada orang yang pernah bilang sama aku, "ya mungkin kalo udah sampai Prancis dari dulu-dulu, kamu gak akan se on fire dan se passionate ini dalam mengerjakan sesuatu, ned"
Wuih. Bisa jadi ya.

Mimpi itu bahan bakar yang membuat mesin kehidupan tetap berjalan. Semua dari kita pasti punya mimpi kan? Pengen punya rumah, pengen nikah, pengen beli makeup di sephora itu bisa jadi mimpi juga loh hehehe.

Besok bisa makan, berangkat sekolah dan tidur dengan tenang aja udah jadi mimpi bagi sekelompok orang~

Mungkin buat sebagian orang istilah "mimpi" ini kurang tepat. Lebih ke life goals kali ya~ tapi kata KBBI mimpi adalah angan-angan. Bukan cuma sesuatu yang nggak bisa digapai, mimpi bisa jadi kenyataan...

Mimpi adalah harapan
Kata hatimu 🎶
Kok nyanyi mulu dah.

Yasudah, selamat bermimpi dan jangan lupa mewujudkannya!

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1905

Friday, January 04, 2019

Sepatu Orang Lain

10 juta buat orang lain adalah harga sepasang sepatu atau harga sebuah tas.
10 juta buatku adalah harga yang harus dibayar untuk mewujudkan mimpi dari jaman dulu. 10 juta buat orang lain bisa jadi adalah biaya hidup 10 bahkan 12 bulan.

10 juta rupiah. Nilainya sama tapi manfaatnya beda. Hari ini bincang sore sama @novitarohmana memutar otak untuk bisa mewujudkan sesuatu~

Mungkin ada orang yang perlu 10 juta buat beli sepatu atau tas (doang). Dan dia merasa nggak masalah. Sementara itu ada orang lain yang perlu 10 juta untuk pengobatan ayah/ibu/anaknya. Kita mungkin nggak bisa sepenuhnya menyalahkan orang yang pertama karena bisa jadi dia sudah membantu orang yang kedua sejumlah 30 juta.

Kita kadang lupa kalau nominal yang sama bisa berarti berbeda untuk orang lain. Kita nggak bisa ngukur kaki kita pakai sepatu orang lain :)

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1904

Kerjaan

Hari ini "kelihatannya" nggak ngapa-ngapain. Cuma duduk di depan laptop dari pagi sampai sore, ngerjain deadline. Tapi kok capek yha.

Mungkin masih banyak ya, yang menganggap pekerjaan freelance itu "apaan sih ga jelas". Yha kalau dibandingkan sama pegawai yang jelas tiap bulan dapet berapa memang nggak jelas sih~ Tapi bukan berarti freelancer nggak ngapa-ngapain. Duduk di depan laptop dari pagi sampai sore, nyari inspirasi, pegel-pegel, deadline ketat, client banyak mau tapi minimalis tuh melelahkan~

Di mata pebisnis, mungkin karyawan atau pegawai juga kurang oke. Sebaliknya, di mata fresh graduate yang-lulus-langsung-kerja-kantoran, temannya yang baru merintis bisnis juga bisa dianggap "nggak kerja". Nggak bisa ditulis di CV. Nggak ada posisi formalnya. Ehe.

Kalo kata orang-orang, apapun pekerjaannya yang penting halal dan dikerjakan sungguh-sungguh. Klasik, tapi lagi-lagi benar.

Jujur aku lebih menghargai tukang parkir yang dengan benar dan baik hati mengarahkan dan bantu nyebrang, daripada resepsionis yang jutek dan kalo ditanya arah cuma nunjuk pake mulut (kebayang nggak sih ini wkwkw).

Aku lebih menghargai orang yang bahasanya di chat pendek-pendek tapi transfernya cepet daripada orang yang kalau chat pakai emoji love love tapi suka telat bayar WKWKWK *dilema freelancer*

Cantik, ganteng itu bagus, bikin adem liatnya. Kaya raya juga bagus, bikin orang lain termotivasi apalagi kalo dermawan juga. Mantap lah. Tapi menurutku satu yang lebih bagus dan suka dilupakan orang, nggak menyepelekan dan nggak nyusahin orang lain.

Ya akupun masih belajar jadi manusia yang menghargai kerjaan orang lain gak sekedar memandang derajatnya, tapi juga dari kerja keras dan attitudenya.

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1903

A C C

A-C-C

Tiga huruf ajaib yang keluar dari goresan pena dosen pembimbing.
2018 adalah tahunnya struggle buatku.
Mungkin juga untuk banyak orang lainnya.

Aku sering sekali membodoh-bodohkan diri, merendahkan diri, membandingan diriku tiada habisnya dengan teman-teman yang lain. Sering sih baca quote-quote. Sadar sih, kalau masih banyak yang harus disyukuri tapi mempraktekannya tak semudah itu, Nediana~

Hari ini 2 Januari 2019, dosen pembimbingku menulis
"Acc untuk sidang akhir" plus tanda tangannya yang berharga di lembar asistensiku.
Aku speechless.

"Akhirnya ya Nedi... tahun ini diawali yang baik-baik. Revisinya tetap dikerjakan ya"
Begitu imbuhnya.

Ada tiga kali sidang yang harus dihadapi untuk lulus di jurusanku. Sempro, semhas dan akhir. Waktu dosenku acc sempro, responku heboh. AALHAMDULILLAAAH AKHIRNYA, literally (ea) bilang gitu di depan dosbingku yang senyum-senyum 😂

Ya kan step pertama memang berat~ jadi heboh deh wkwk.

Waktu acc semhas, teriakku makin pelan. Dan waktu acc sidang akhir, aku nggak teriak sama sekali. Lebih ke diam. Nggak percaya sudah sampai di tahap ini. Kalau flashback gimana perjuangan bikin proposal sampai survei sampai ngerjain analisis dan laporan akhir, benar-benar nggak percaya...

Waktu aku cerita sama Rasyid rasa speechlessnya di acc sidang akhir,

"Itulah namanya pencapaian," jawabnya dengan senyum ❤

Mengutip kata-kata @loveshugah,
"Kita datang ke gym bukan untuk pegel-pegelnya"
"Kita datang ke dokter gigi bukan untuk ngilunya"

Dulu aku suka menganggap motivasi orang-orang sukses kayak "ah yaiyalah dia bisa ngomong gitu! orang sekarang dia mapan, sukses punya semuanya"
Oops. I'm completely wrong. I really don't understand their hardwork and struggling position.

Ketika udah merasakan Acc dan flashback ke perjuangan kemarin-kemarin, baru aku mulai tersadar lagi.

Ya wajar lah ya namanya orang stress, tertekan, pusing, merintih, nggak akan bisa ngomong positif atau motivasi. Lha wong fisik dan psikis mereka sedang nggak betul. Yang ada mereka yang butuh diomongin positif dan dimotivasi.

Jadi... aku akan mengakhiri tulisan ini dengan kalimat super klasik: tetap semangat untuk apapun yang sedang kalian perjuangkan 🌻

Your hardwork will be paid off. That's what I and millions other said and that's true. Its okay to sambat for a while and ask for help if you need it 🌻

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1902

Bukan Tanggal Merah

Hari ini 1 Januari 2019.
Buat sebagian besar orang, mungkin ini hari libur yang baik. Beberapa masih belum bangun setelah menikmati malam tahun baru, beberapa lainnya sedang mengumpulkan energi dan mempersiapkan diri untuk memulai tahun 2019 dengan lebih baik.

Tentunya banyak yang sedang berkumpul dengan orang-orang tersayangnya, menikmati libur awal tahun. Tetapi 1 Januariku bisa dibilang cukup melelahkan. 31 Desember lalu, party plannerku dipercaya untuk mendekor acara tahun baru di salah satu cafe di Semarang. Jujur saja ini menjadi batu loncatan dan awal tahun yang baik untuk usaha party plannerku.

Party plannerku dikelola oleh tiga orang saja, termasuk aku. Semuanya perempuan. Dari persiapan hingga eksekusi semua kami lakukan bertiga. Ini salah satu dekor ter-melelahkan. Kami bekerja cukup berantakan tapi kami pastikan semua sudah sesuai dengan kesepakatan dengan client. Di tanggal 31 kami mulai mengerjakan dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore... tapi tunggu, sebetulnya bukan cerita ini yang ingin ku ceritakan lebih jauh.

Aku ingin bersyukur karena lagi-lagi dipertemukan dengan orang baik. Sebut saja Ko E. Ko E itu owner cafe yang aku dekor. Sejak awal pertemuan dengan Ko E, aku merasa segan dan sangat overthinking dengan pekerjaan ini. Tentu karena ini kepercayaan yang tidak main-main dan banyaknya hal yang harus diselesaikan oleh tiga orang saja.

Di 1 Januari, kami juga mendapat... lumayanlah sesuatu yang menguji iman untuk nggak berkata kasar. Siang harinya kami datang ke cafe untuk membereskan dekorasi. Saat sampai ternyata banyak sekali properti dekorasi yang hilang. Kami panik. Manager cafe mengatakan "Cuma itu aja mbak yang saya tau. Kalo mau tau lagi nanti tunggu saya cek cctv dulu. Tapi nggak bisa sekarang."

Dylla menyuruhku menghubungi Ko E untuk mengabarkan kehilangan ini. Tapi aku lagi-lagi masih merasa segan. Takut mengganggu dan takut terlalu banyak meminta. Yup! That's one thing I need to fix in 2019. Less overthinking hahaha.

Alhamdulillah... menjelang Maghrib aku dikabari oleh Ko E kalau barang-barang kami sudah ketemu. Tanpa pikir panjang aku mengegas motor kembali ke cafe tadi dan mengambilnya sendiri. Setelah sampai rumah aku segera berterima kasih dan meminta maaf ke Ko E takut merasa dekorasi kami kurang memuaskan.

"Terimakasih sekali lagi ya ko, maaf juga ya ko kalau kami ada salah-salahnya🙏🏼"
Tulisku di whatsapp.

"Nggak ada... udah aman semua 👌"
"Besok2 kalo butuh dekor lg ta contact ya"

Seketika aku sebahagia itu...
Bahaagiaaaa sekali.
Kadang kita sering men-judge appearance dan seseorang hanya dari satu tatapan.
Waktu ketemu Ko E pertama kali, banyaaakk sekali pikiran-pikiran di otakku.

Ternyata dia sebaik itu!
Jauh lebih baik dari pemikiranku pertama kali. Yhaa begitulah kita.
Seringkali kita memberi cap ke seseorang yang sama sekali nggak kita tahu.
Apalagi di era yang semua-semua "liat instagram aja", kita makin rajin memberikan judgement tanpa tahu yang sebenarnya.

Kita nggak pernah tau rasa kelaparan dibalik orang-orang yang kita bilang "gendut".
Kita nggak pernah tau rasa tertekan dan nggak mau keluar rumah dibalik orang-orang yang kita bully.
Begitulah~

Di 1 Januari ini aku belajar untuk lebih menghargai setiap orang yang ku temui. Bahwa semua orang punya kisah yang kita nggak tahu. Bahwa semua hal akan ada sisi putihnya. Dan yang penting...

Bahwa kita harus selalu berbuat baik❤

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1901