Saturday, December 09, 2017

Mencintai Orang Lain

Aku memiliki seorang kekasih sekarang. Kami sering bertengkar karena hal kecil.
Sepertinya hubungan kami mulai terasa banyak tuntutan. Harus saling meluangkan waktu tiap beberapa waktu sekali, harus saling ini dan itu. Namun sayangnya, meskipun sudah saling, tapi terkadang salah satu dari kami masih merasa pasangan kami tidak melakukan yang seharusnya. Aku menuntut ini. Dia menuntut itu. Aku tidak suka dia begini. Aku tidak suka dia begitu. Kami bicara banyak. Tapi kosong. Aku bermimpi ini. Dia bermimpi itu. Kami menjadi tidak sejalan. Meskipun aku tahu kami masih saling mencintai. Tapi rasanya aku dan dia sama-sama berjuang untuk ini. Aku kadang merasa lelah. Kemudian aku mencintai orang lain...

Ya, aku mencintai seseorang.
Dia memperhatikan aku dengan cara yang unik.
Kami jarang bertegur sapa saat bertemu.
Kami hanya chatting seperlunya.
Tapi aku tahu bahwa aku ingin dia.
Dia berhasil membuatku bermimpi tinggi.
Untuk meraih puncak gunung.
Kami memimpikan tentang Mahameru.
Kami berandai-andai mendaki bersama.
Dia selalu mengantar aku, dengan motor kesayangannya.
Bahkan saat hujan turun lebat.
Bahkan saat aku lupa membawa helm.
Untuk menempuh jarak yang tidak dekat ke rumahku.
Kami makan bersama untuk pertama kalinya dengan sederhana.
Tidak ada makan malam cantik.
Tidak ada makan malam romantis.
Kami menikmati makan ayam penyet di warung sederhana.
Sambil ia tersenyum sesekali setelah menghisap rokoknya.
"Maaf ya, kalau sama aku kena asap", begitu katanya.
Kami berencana ingin menonton bersama, tapi gagal.
Tapi tidak apa untuk kami berdua.
Kami terjebak dalam kemacetan acara imlek selama 2 jam.
Tapi tak apa.
Kami mencari ikan segar pukul 1 pagi.
Meski sampai rumah dimarahi Ibu, tak apa.
Sapaannya pagi hari dengan emoticon khas BBM selalu berhasil.
Membuat aku enggan untuk melanjutkan tidur.
Walaupun pagi terasa sangat dingin.
Hari ku terasa lengkap setelah bertemu dia.
Sederhana. Tapi Mengena.
Kami mendaki bersama.
Ban motornya bocor.
Tapi tak apa.
Rasanya segala kesulitan menjadi biasa saja bersama dia.
Kehujanan.
Kemacetan.
Setelah aku mencapai puncak pertamaku,
dia menyatakan cintanya.
Saat itu, pertama kali aku merasakan pelukannya.
Hangat.
Pintar saja dia memberinya saat di puncak.
Rasanya sungguh tidak ingin kulepas dari pelukannya.
Kami sangat sederhana.
Tidak ada pertengkaran.
Kami tidak masalah kalau tidak menonton film di bioskop.
Kami tidak masalah kalau tidak kencan malam minggu.
Semuanya benar-benar terasa sederhana.
Dia selalu berhasil membuat aku terasa spesial.
Dengan sederhana.
Kami berangkat ke acara ulang tahun teman.
Naik motor.
Meskipun aku harus repot mengganti dress saat sampai.
Tapi sungguh tak apa.
Kemudian dia memberi aku kado pertama.
Sepasang sepatu gunung.
Segala yang terjadi pada kami rasanya tak apa.
Sungguh tidak apa-apa.
Cinta kami begitu sederhana.
Tapi aku menyukainya.
Aku merindukannya.
Aku sangat ingin dia kembali.
Tapi sayangnya tidak akan bisa.

















Karena orang tersebut adalah kekasihku, 4 tahun yang lalu.
Apakah kedewasaan selalu identik dengan makin banyaknya tuntutan hidup? Tidak bisa kah kita tumbuh dengan kesederhanaan yang kita miliki sebelumnya? Jika memang semakin banyak kewajiban dan tuntutan akan kedewasaan ini, tidak dapatkah kita buat itu menjadi sederhana juga?