Tuesday, October 30, 2012

do what you love

bonjour tout le monde!
bonjour mon blog, mon amour :)

*sok sokan banget pake mon amour, gebetan aja gapunya* ngahaha

berawal dari rentetan post it di meja belajar saya yang banyaaaaak banget dan itu deadline nya deket-deket.
post it bikin seni rupa tanggal 30, berikutnya tanggal 1, 2, 3. kalau post it itu bisa ngomong, sudah dipastikan saya nggak tidur selama seminggu karena denger mereka ribut ngingetin kalo saya harus bikin tugas. wait, tugas?
kapan aku seniat itu buat sekolah? sejak kapan nge-post it PR? no no ini sama sekali nggak ada hubungannya sama pelajaran sekolah. nah ini lagi yang bikin saya makin galau.

semua yang saya tempel di post it itu adalah soal lomba, event AIESEC, dan beberapa kegiatan ekskul. kalo kegiatan itu dibagi sesuai kepentingannya, jelas yang ada di post it itu sepertinya sunnah semua. yang fardhu ain itu jelas 13 mata pelajaran busuk yang cuma beberapa saya pelajari dengan senang hati. paling ya saya cuman cukup semangat waktu pelajaran bahasa, TIK. ya itu doang sih. dulu suka geografi tapi karena sekarang saya di IPA jadi tinggalah bahasa dan TIK. kalo suka geografi kenapa nggak masuk IPS? karena saya benci ekonomi. amat benci ekonomi. jujur saya lebih milih muter-muter nggak mudeng sama kimia fisika daripada harus bergulat dengan ekonomi dan berbagai teorinya, apalagi akutansi. ngaah.


balik ke rentetan post it di meja belajar saya, meski itu sama sekali bukan fardhu ain atau yang wajib dikerjakan, tapi saya suka dan mau mengerjakan itu semua. meski rasanya capek banget dan pusing karena deadline yang berdekatan, saya tetep mau mengerjakannya. saya nggak mau ngeluh. saya mau mengerjakan yang terbaik untuk meng-organize acara AIESEC mulai dari promosi sampai nyusun detail rundown, nulis karya ilmiah geologi yang bahkan belum saya lakukan pengamatannya, standby lama di depan laptop benerin artikel majalah, bolak balik google-corel buat nge design majalah juga dan bahkan saya harus bikin essay tentang penghapusan hukuman mati di negara Paraguay?! you might think those all really not important and... exaggerating also. but I don't know why, I want to do those, I want finish all of those. I want use opportunity in my eyes. design, dunia menulis, astronomi atau mentok-mentoknya geologi, itu semua yang benar-benar ingin saya kerjakan.


pernah saya curhat soal ini sama guru pembimbing salah satu lomba yang saya ikuti, "saya salah nggak sih pak? soalnya menurut saya, itu semua yang benar-benar pengen saya lakuin. pelajaran itu asal mudeng udah deh..."
dan dengan agak kaget saya mendengar jawaban guru tersebut:
"Ya jelas nggak salah. besok kalo kamu kuliah dan kerja saya yakin kamu bisa lebih enteng, biasa ngerjain banyak hal. malah saya lebih suka murid yang seperti itu. tugas mapel, mapel kamu yang belasan itu besok nggak kepake waktu kuliah. tugas banyak kaya gitu itu cuma buat kamu jadi disiplin sama tertib. kalo kamu udah disiplin sama tertib yaudah tinggal tunggu lulus, udah nggak terlalu penting. sama juga kalo kamu udah tau kamu mau kemana. kalo kamu udah tau kamu mau Prancis, mau Astronomi, mau jadi Penulis yaudah itu nggak kepake lagi. mapel sebanyak itu juga cuma buat anak-anak yang nggak tahu mau kemana besok"
jadi? baiklah saya mau tidak mau harus menikmati 1 3/4 tahun lagi di masa yang kata orang-orang masa paling indah, masa SMA.

Sunday, October 07, 2012

Buat Pemikiranmu Menjadi Aksi Nyata (Indonesian Version for IYLC 2012 Story Telling Competition)


Usia saya 16 setengah tahun. Saya bingung.Apa yang pernah saya lakukan untuk membuat pengaruh pada lingkungan saya? Lalu saya berpikir tentang ide-ide yang pernah saya keluarkan. Ide itu mungkin tidak langsung saya realisasikan secara fisik, namun secara bertahap.

Kadang-kadang saya merasa apa yang ada dalam pikiran saya tidak sama dengan yang ada di dalam pikiran teman-teman saya. Contoh, pikiran saya tentang bahasa.Banyak diantara teman saya yang menganggap bahwa bahasa bukanlah pelajaran yang penting, apalagi bahasa asing.Sangat berbeda dengan saya.Saya justru merasa bahwa belajar bahasa adalah sesuatu yang menarik, apalagi bahasa asing. Ketika kita mempelajari bahasa negara tertentu, secara otomatis kita juga akan mengetahui tentang budaya dari negara tersebut. Dan itu yang akan membuat kita memiliki lebih banyak wawasan dibanding orang yang tidak pernah belajar bahasa selain bahasa ibunya. Jadi bisa saya sebutkan, langkah pertama yang saya gunakan untuk memberi impact adalah speak up your idea, make people know about your thought.

Namun, yang namanya pemikiran dan mindset adalah sesuatu yang personal, bagaimana pun juga saya tidak akan memaksa orang lain untuk mempunyai pikiran yang sama dengan saya. Saya memang membagikan pikiran tersebut, namun saya tidak memaksa orang lain juga berpikir seperti apa yang saya pikirkan. Jadi, langkah kedua yang saya lakukan adalah do share, but don’t ever force other to follow yours.

Cukup kecewa ya kalau punya pemikiran yang menurut kita bagus tapi kita merasa tidak ada orang lain yang bisa se pikiran dengan kita. Saat kita punya pikiran yang menurut kita tidak biasa, biasanya kita akan mencari orang lain yang sependapat sehingga kita tidak akan merasa ‘sendiri’. Saya pun melakukannya.Kemudian saya menemukan project tentang bahasa yang baru-baru ini dilaksanakan oleh AIESEC LC UNDIP Semarang.Tidak semua project yang ada berhubungan dengan pemikiran kita. Dan ketika saya mengetahui review dari project tersebut, tanpa pikir panjang saya mendaftarkan diri jadi sukarelawan. Ini adalah apa yang benar-benar ingin saya lakukan. Mendalami bahasa. Mengenal kultur negara-negara di dunia. Langkah ketiga yang saya lakukan: be active, search something which is similar with your thought, and join in a project.

Beruntunglah saya karena sempat menjadi pendamping Exchange Participant atau EP, dalam sebuah pameran bahasa. Saya juga mengikuti EP untuk menjelaskan tentang UK. Saya juga menjelaskan sebenarnya acara apa ini. Meskipun saya menjelaskan project nya, tapi saya merasa pemikiran saya juga ikut tersampaikan oleh penjelasan tersebut. Mengenai apakah mereka akan melakukan hal yang sama atau tidak, itu bukan masalah. Yang penting adalah bagaimana kita mencoba percaya dengan kekuatan berbicara.  Dan dengan kutipan berikut: “Speech is power: speech is to persuade, to convert, to compel” (Ralph Waldo Emerson) saya melakukan langkah keempat saya, invite, tell, and inspire the others through the project that you join.

Saya mengajak cukup banyak teman saya untuk bergabung di acara-acara yang terdapat dalam project ini. Jika anda bertanya, tadi kamu bilang kalau temanmu itu tidak respect dengan bahasa, bagaimana kamu bisa mengajaknya? Tentu saya tidak akan mengajaknya untuk bergabung dengan sebuah project bahasa. “Banyak jalan menuju Roma”, begitu juga untuk mengajak orang-orang yang tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti ini.Saya akan lebih senang mengajak mereka untuk ‘berkenalan dengan teman dari seluruh dunia’ daripada sekedar mengucapkan ‘ayo bergabung di project bahasa ini’. Pada akhirnya cukup banyak teman-teman saya yang berakhir dengan tergabung dalam project tersebut.

Saat project berakhir, beberapa peserta project ini menanyakan pada saya bagaimana caranya mengakrabkan diri dengan EP.Saya jawab, hanya beranikan dirimu untuk bicara.Salah tidak masalah karena sekarang kita pun masih mempelajari bahasa mereka. Satu hal lain yang membuat saya senang adalah ketika seorang EP mengatakan pada saya, kalau meskipun saya baru bertemu mereka sebentar, namun saya dapat memberanikan diri bicara. Sebenarnya yang ingin saya lakukan adalah menunjukan stereotype orang Indonesia. Jika orang Indonesia dikenal ramah, saya harus mampu membuktikannya.Salah satu EP juga mengatakan: “Kamu dapat membantu para turis asing menjembatani kesenjangan budaya dan membuat kami merasa nyaman tinggal di Indonesia”

Demikian adalah cerita saya tentang apa yang pernah saya lakukan untuk orang-orang di sekitar saya. Meski saya tidak bisa melakukan banyak hal secara materi, saya selalu berusaha merealistiskan apa yang ada dalam pikiran saya. Semoga cerita ini dapat menginspirasi anda :)