Halo.
Untung saya ingat kalau ada app blogger di hape. Jadi gak melulu ngetweet dan ngotorin timeline hehhe.
Kali ini saya mau cerita tentaang gunung. Yep.
Dulu waktu pertama masuk SMA, ada demo ekstrakurikuler dari kakak kelas saya.
Karena dulu waktu masuk SMA saya gak terlalu bahagia... (jujur aja haha).
Jadi sebenarnya saya gak tau mau ikut apa nanti waktu udah resmi jadi siswa SMA. Malah sempat kepikiran untuk gak ikut ekskul apapun. Yaa saking kecewanya saya waktu pengumuman SMA dulu hehehe.
Saya juga tahu sih sikap kaya gitu sudah pasti akan membawa kekecewaan saat saya mulai mencintai SMA saya suatu saat nanti.
Benar sajaa. Saya sekarang sedang ada di fase kecewa karena kelakuan saya saat masuk SMA dulu :)
Singkat cerita, karena saya nggak minat ikut apapun, saya perhatiin aja demo ekskul satu per satu. Kemudian saya sangat tertarik dengan ekskul 'pecinta alam'. Senior PA di sekolah saya waktu itu membangun flying fox mini dan memberi kesempatan siswa baru untum mencoba memanjat sebuah pohon. (Sekolah saya punya pohon yang sangat besar, bisa digunakan sebagai pengganti wall climbing).
Dari situ saya sudah tertarik. Entah kenapa. Padahal keluarga saya adalah keluarga mall. Jujur saja, dari semua keluarga saya gak ada satupun yang minat sama adventure. Waisatanya paling wisata belanja. Saya kecilpun lebih sering main di timezone atau naik bianglala di mall dan semacamnya. Eh bukannya sombong atau gimana lhoo ._. Tapi memang ada kan keluarga yang kalau liburan dari mall ke mall? Hehehe. Hanya bapak saya dulu waktu SMA dan kuliah pernah naik gunung dan lumayan sering backpackeran.
Tapi walaupun begitu, kalau saya gak salah ingat, dari SD pun saya udah ngikutin jejak petualang. Pokoknya jaman-jaman riani djangkaru itu deh. Ada juga jelajah dan acara-acara sejenis itu. Tapi jujur saya memang jarang sekali berlibur dengan keluarga saya ke tempat yang sunyi, berbau alam. Jadi sekadar menikmati dari layar televisi saja hehehe.
Nah lanjut ke demo PA saat saya MOS. Selain saya suka dengan kegiatan flying fox dan memanjatnya, sayapun dapat info kalau ikut PA itu kerjaannya jalan-jalan terus. Ya bener sih. Dari gunung ke gunung, pulau ke pulau. Ekspedisi demi ekspedisi. Jadi baru saya sadari saat saya kelas 3 SMP kalau saya punya minat akan backpacking dan petualangan. Bahkan saya jadi rajin baca buku-buku semacam backpacking hemat dan sejenisnya.
Selesai saya mengikuti semua demo ekskul, pulanglah saya ke rumah. Beberapa hari kemudian, guru BK mulai memberikan form ekskul yang harus diisi. Hanya berbekal demo ekskul dan minat jalan-jalan yang baru bangun saat SMP, saya pun memutuskan ingin mengisinya dengan PA. Lalu datanglah saya ke ibu saya. Meminta izin untuk ikut ekskul PA. Ternyata.... tanggapan ibu jauh sekali dengan ekspektasi saya ._.
Kalimat-kalimat semacam "nanti kalau kamu meninggal di gunung gimana" dan sebagainya satu per satu muncul sebagai tanda ketidaksetujuan.
Akhirnya saya mundur. Waktu itu jujur saja, saya tidak terlalu kecewa. Yaa ngapain kecewa kan niatnya malah gak mau ikut apa-apa hehehe. Yaudah saya dengan gampang mengisi form ekskul dengan ekskul yang lebih aman dan lebih cewek.
1,5 tahun berselang. Saya sudah kelas 2 hampir semester 2. Tiba-tiba saya punya gebetan. Jangan tanya hidup saya di SMA sebelum saya bertemu gebetan saya itu. Saya seperti salah fokus. Kesenangan saya pada Prancis terus bertambah apalagi saat saya mengikuti sebuah project yang membuat saya kenal dengan seorang bule Prancis. Ya intinya, antara jiwa dan raga saya seperti gak di satu tempat *alay* hahaha.
Ohya si gebetan. Pinter banget dia mulai percakapan sama saya. Dia mengawali dengan kamu kenapa sih suka Prancis segitunya dan pertanyaan sejenis. Lalu dia mulai mengatakan "kamu gak tau sih padahal Indonesia itu bagus banget loh". Okay, dia itu seorang PA di sekolah saya. Kemudian saya 'dicekoki' dia pengalaman-pengalaman ekspedisinya yang memang asik dan tak pernah saya alami. Saya pun balik bercerita kalau sebenarnya saya suka traveling, ingin sekali menjajal petualangan namun tak pernah kesampaian.
Singkat kata, akhirnya kami jadi lebih dari sekedar teman biasa. Di akhir kelas 2 saya dapat tugas membuat film. Dan kelompok saya sepakat membuatnya di Gunung Ungaran. Nah maka mendakilah saya untuk yang pertama kali. Perizinan? Jangan tanya berapa kali saya mencoba meyakinkan orang tua kalau saya akan baik-baik saja. Saya tau sih orang tua pasti cemas, saya gak punya latar belakang petualang2 kayak gitu. Keluarga gak ada yang pernah naik gunung pula. Yang ada malah berita2 di tv yang suka menayangkan pendaki hilang dan meninggal. Membuat orang tua saya makin tak sampai hati mengizinkan saya pergi. Tapi Alhamdulillah, akhirnya pergilah saya dan pulang dengan selamat.
Sejak saat itu, sampai detik ini, saya pun ketagihan ingin naik gunung lagi. Tapi selalu sulit untuk minta izin pada ibu saya. Saya gak mau jadi anak durhaka hanya karena ingin membereskan ketagihan naik gunung saya. Tapi saya pun takut kalau terus gak boleh, kesempatan saya naik gunung akan hilang.
Liburan kali ini, saya juga sedang sangat ingin mendaki. Tapi saya belum punya cukup keberanian untuk bicara pada ibu. Karena kali ini benar-benar mendaki... tak ada dalih membuat film ._.
Saya sangat menyayangi ibu saya. Dari dulu saya jarang punya perbedaan pendapat dengan ibu. Saya cenderung diam atas apa saja yang dikatakan ibu. Bahkan saya hampir tak pernah menceritakan apa yang sedang terjadi pada saya.
Dari kecil, saya cenderung mengikuti apa saja yang ibu saya mau. Saat saya menemukan minat saya jauuh dari apa yang ibu saya pernah bayangkan, saya pun bimbang. Apalagi ibu saya sering sekali berpikir kalau saya naik gunung hanya karena si gebetan yang sekarang itu lebih dari teman saya ._.
Saya galau.
Saya gak mau bikin ibu saya sakit karena khawatir mikir saya pergi.
Saya juga gak mau menentang orang tua dan semacamnya.
Saya pun sampai sekarang belum bisa membuat ibu saya tenang kalau saya pergi kemana-mana.
Tapi di lain sisi,
Saya ingin mewujudkan mimpi-mimpi saya, mumpung saya masih punya energi dan motivasi.
Saya kadang takut kalau suatu hari nanti ternyata Tuhan punya rencana yang tidak kita bayangkan, yang membuat saya tak akan pernah bisa menjajal dan menikmati langsung keindahan alamnya.
Saya takut.
Saya gak mau buat ibu saya kecewa.
Tapi saya juga gak bisa menghentikan keinginan saya untuk naik gunung lagi...
















