Sunday, October 07, 2012

Buat Pemikiranmu Menjadi Aksi Nyata (Indonesian Version for IYLC 2012 Story Telling Competition)


Usia saya 16 setengah tahun. Saya bingung.Apa yang pernah saya lakukan untuk membuat pengaruh pada lingkungan saya? Lalu saya berpikir tentang ide-ide yang pernah saya keluarkan. Ide itu mungkin tidak langsung saya realisasikan secara fisik, namun secara bertahap.

Kadang-kadang saya merasa apa yang ada dalam pikiran saya tidak sama dengan yang ada di dalam pikiran teman-teman saya. Contoh, pikiran saya tentang bahasa.Banyak diantara teman saya yang menganggap bahwa bahasa bukanlah pelajaran yang penting, apalagi bahasa asing.Sangat berbeda dengan saya.Saya justru merasa bahwa belajar bahasa adalah sesuatu yang menarik, apalagi bahasa asing. Ketika kita mempelajari bahasa negara tertentu, secara otomatis kita juga akan mengetahui tentang budaya dari negara tersebut. Dan itu yang akan membuat kita memiliki lebih banyak wawasan dibanding orang yang tidak pernah belajar bahasa selain bahasa ibunya. Jadi bisa saya sebutkan, langkah pertama yang saya gunakan untuk memberi impact adalah speak up your idea, make people know about your thought.

Namun, yang namanya pemikiran dan mindset adalah sesuatu yang personal, bagaimana pun juga saya tidak akan memaksa orang lain untuk mempunyai pikiran yang sama dengan saya. Saya memang membagikan pikiran tersebut, namun saya tidak memaksa orang lain juga berpikir seperti apa yang saya pikirkan. Jadi, langkah kedua yang saya lakukan adalah do share, but don’t ever force other to follow yours.

Cukup kecewa ya kalau punya pemikiran yang menurut kita bagus tapi kita merasa tidak ada orang lain yang bisa se pikiran dengan kita. Saat kita punya pikiran yang menurut kita tidak biasa, biasanya kita akan mencari orang lain yang sependapat sehingga kita tidak akan merasa ‘sendiri’. Saya pun melakukannya.Kemudian saya menemukan project tentang bahasa yang baru-baru ini dilaksanakan oleh AIESEC LC UNDIP Semarang.Tidak semua project yang ada berhubungan dengan pemikiran kita. Dan ketika saya mengetahui review dari project tersebut, tanpa pikir panjang saya mendaftarkan diri jadi sukarelawan. Ini adalah apa yang benar-benar ingin saya lakukan. Mendalami bahasa. Mengenal kultur negara-negara di dunia. Langkah ketiga yang saya lakukan: be active, search something which is similar with your thought, and join in a project.

Beruntunglah saya karena sempat menjadi pendamping Exchange Participant atau EP, dalam sebuah pameran bahasa. Saya juga mengikuti EP untuk menjelaskan tentang UK. Saya juga menjelaskan sebenarnya acara apa ini. Meskipun saya menjelaskan project nya, tapi saya merasa pemikiran saya juga ikut tersampaikan oleh penjelasan tersebut. Mengenai apakah mereka akan melakukan hal yang sama atau tidak, itu bukan masalah. Yang penting adalah bagaimana kita mencoba percaya dengan kekuatan berbicara.  Dan dengan kutipan berikut: “Speech is power: speech is to persuade, to convert, to compel” (Ralph Waldo Emerson) saya melakukan langkah keempat saya, invite, tell, and inspire the others through the project that you join.

Saya mengajak cukup banyak teman saya untuk bergabung di acara-acara yang terdapat dalam project ini. Jika anda bertanya, tadi kamu bilang kalau temanmu itu tidak respect dengan bahasa, bagaimana kamu bisa mengajaknya? Tentu saya tidak akan mengajaknya untuk bergabung dengan sebuah project bahasa. “Banyak jalan menuju Roma”, begitu juga untuk mengajak orang-orang yang tidak terlalu peduli dengan hal-hal seperti ini.Saya akan lebih senang mengajak mereka untuk ‘berkenalan dengan teman dari seluruh dunia’ daripada sekedar mengucapkan ‘ayo bergabung di project bahasa ini’. Pada akhirnya cukup banyak teman-teman saya yang berakhir dengan tergabung dalam project tersebut.

Saat project berakhir, beberapa peserta project ini menanyakan pada saya bagaimana caranya mengakrabkan diri dengan EP.Saya jawab, hanya beranikan dirimu untuk bicara.Salah tidak masalah karena sekarang kita pun masih mempelajari bahasa mereka. Satu hal lain yang membuat saya senang adalah ketika seorang EP mengatakan pada saya, kalau meskipun saya baru bertemu mereka sebentar, namun saya dapat memberanikan diri bicara. Sebenarnya yang ingin saya lakukan adalah menunjukan stereotype orang Indonesia. Jika orang Indonesia dikenal ramah, saya harus mampu membuktikannya.Salah satu EP juga mengatakan: “Kamu dapat membantu para turis asing menjembatani kesenjangan budaya dan membuat kami merasa nyaman tinggal di Indonesia”

Demikian adalah cerita saya tentang apa yang pernah saya lakukan untuk orang-orang di sekitar saya. Meski saya tidak bisa melakukan banyak hal secara materi, saya selalu berusaha merealistiskan apa yang ada dalam pikiran saya. Semoga cerita ini dapat menginspirasi anda :)

No comments:

Post a Comment