“Semenyebalkan menyebalkannya Paris, ngga pernah lebih menyebalkan dari Indonesia”
Paris. Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat mudah digapai, seperti hendak pergi ke department store untuk membeli baju model terbaru. Mudah, tidak merepotkan, dan tidak perlu usaha yang terlalu keras.
Tapi untuk aku, Paris tak pernah berhenti jadi impianku. Lebih dari sekedar impian biasa. Entah apa yang akan menyambutku ketika aku berada disana suatu hari nanti.
Aku childish. Aku masih terlalu lekat dengan imajinasi dan impian. Aku tidak pernah membayangkan ketika dewasa nanti akan bekerja di kantor, dipenuhi meja-meja, komputer-komputer dan telepon yang tidak pernah lelah berbunyi. Menunggu salah seorang yang ada di ruangan tersebut mengangkat. Aku tidak pernah membayangkan itu semua. Aku tidak pernah membayangkan menjadi seorang sekertaris yang sarat akan “tuduhan” ketika berdua bersama boss nya. Aku tidak pernah membayangkan akan punya boss seperti apa.
Aku selalu membayangkan untuk menjadi scientist dan penulis yang hebat. Bekerja dengan senang hati tanpa harus ada boss yang mengatur. Yang ketika aku kembali ke tanah air, aku ingin melihat orang-orang yang aku sayangi bangga kepadaku. Aku tahu, untuk mencapai realita seperti ini, tidak mungkin rasanya jika saat ini saja untuk nilai fisika dan biologi kadang aku masih harus remidi di beberapa ulangan. Aku bukan anak yang mempunyai target 10.00 untuk mapel IPA di Ujian Nasional. Aku bukan siswa kelas A yang ketika namanya muncul di lembar pertama di hasil try out akan merasa biasa saja. Aku pernah menjajal untuk ikut tes masuk tim olimpiade fisika di sekolahku. Lolos di tahap pertama, namun gagal di tahap kedua. Aku dikalahkan oleh seseorang di penyaringan tahap 2 itu. Dia peringkat pertama, dan aku peringkat ke-22. Tapi aku tidak pernah malu bertanya tentang fisika yang belum aku mengerti padanya. Aku bukan siswa yang ditunjuk untuk mengikuti olimpiade sains dan OSN. Tapi aku begitu yakin, suatu hari nanti aku bisa. Aku bisa menjadi scientist yang hebat. Karena untuk menjadi seorang scientist, seseorang tidak harus mempunyai nilai 10 di setiap ulangan IPA nya. Seseorang tidak harus mendapatkan medali OSN, meski aku tahu, dengan kedua hal itu semua akan lebih mudah. Aku hanya ingin menjadi scientist yang suatu saat dapat menemukan sesuatu yang berguna, dan membuat bangsaku bangga karena salah satu putra nya berhasil menciptakan sebuah mahakarya baru. Ya.
Aku ingin menjadi penulis yang hebat. Aku ingin menjadi penulis Indonesia pertama yang berhasil menciptakan novel fantasi selaris dan sekeren Harry Potter. Aku ingin buku-buku yang aku tulis menjadi best seller. Best seller bukan karena aku akan mendapatkan banyak uang, namun karena orang-orang membeli buku ku dan kemudian meninggalkan testimoni yang baik. Aku akan sangat senang jika buku yang aku tulis menjadi best seller karena orang-orang merasa senang membaca buku ku. Sekali lagi, bukan best seller karena aku akan menjdapatkan banyak uang.
Lalu, aku ingin bergabung dengan komunitas greenpeace atau semacamnya. Aku ingin pergi ke Antartika dan memeluk penguin. Hewan favoritku. Aku ingin memeluk mereka sebelum pemanasan global melahap seluruh habitat mereka di bagian Selatan bumi ini. Namun aku sama sekali tidak berharap hal itu akan terjadi. Aku tahu, jika mulai saat ini aku memulai untuk ikut gerakan pecinta alam dan sejenisnya di sekolah, ada kemungkinan aku tidak diijinkan. Apalagi jika kegiatan itu harus pakai acara mendaki gunung, menyusuri sungai dan sebagainya. Bukan karena aku tak mau. Sebenarnya aku menyukai petualangan macam itu. Aku suka hiking saat aku kemah kelas 7. Aku selalu ingin mengulangnya. Aku menemukan rumah terbuat dari bambu yang disusun tidak terlalu rapi, dan atapnya adalah plastik tebal. Aku kurang tahu persis apa namanya. Yang jelas aku terpana saat masuk ruangan yang aku pikir sejenis dengan green house itu. Bermacam-macam bunga tumbuh dan dibiakkan disana. Mulai dari merah, warna favoritnya, putih, kuning, ungu, oranye hingga pink, warna favoritku. Oh ya alasan mungkin aku tidak diijinkan mengikuti kegiatan pecinta alam adalah, mengingat saat penilaian lari di sekolah saja kaki ku keram semua. Dan aku tidak mau merepotkan banyak orang jika tiba-tiba anemia ku kambuh. Tidak lucu.
Aku tahu impian dan cita-cita macam itu sangat novel dan film. Namun entah mengapa aku terlalu percaya pada impian macam itu. Impian untuk menjadi seseorang yang berbeda dari yang lain. Menjadi seseorang yang cita-citanya berbeda dari sebagian banyak teman ku yang ingin menjadi dokter, pengusaha dan pekerjaan lain yang aku rasa, itu menghasilkan banyak uang.
Please no offense with what I wrote in this.
Semua orang punya impiannya masing-masing. Semua orang berhak menentukan jalan hidup dan cita-citanya masing-masing. Dan inilah yang aku inginkan. Ketika semua temanku berusaha mati-matian untuk mendapatkan NEM Ujian Nasional di range 38-40, aku bahkan tidak tahu berapa target pasti ku. Aku tidak bisa mengukur seseorang dari NEM nya. Yang aku tahu, dan yang membuat aku begitu semangat berjuang untuk ujian ini adalah orang tua ku. Mereka lah alasan aku menjadi takut, minder dan ragu. Takut jika aku tidak mendapatkan NEM yang seperti teman-teman ku targetkan.
Sebenarnya aku tidak terlalu ambil pusing dengan itu. Yah aku tahu, di Indonesia nilai seperti itu memang sangat menentukan. Bahkan nilai seperti itu sangat menentukan pintar atau tidak kah seseorang. Namun, jujur aku tidak setuju.
Bagaimana kalau sebenarnya dia cerdas, pintar dan telah berusaha mati-matian namun pada saat ujian berlangsung, dia memiliki penyakit yang tidak terdeteksi kemudian kambuh? Bagaimana jika sehari sebelum Ujian Nasional berlangsung, orang tua nya dikabarkan meninggal dan dia down seketika? Mengapa orang harus repot-repot menanyakan NEM ujian seseorang untuk mengukur pintar atau tidak kah ia. Pantas atau tidak kah ia mendapat pekerjaan yang bagus. Mengapa?
Baiklah, aku yakin akan banyak sekali orang yang kontra terhadap pendapat yang aku tulis disini.
Aku yakin akan banyak orang yang menganggap aku sebagai ‘pemberontak’. Siswa yang membenci ujian dan akhirnya membuat pendapat sedemikian rupa. Mungkin orang akan berpikir, karena NEM ku selama try out tidak bisa sebagus teman-teman ku yang lain, aku membuat tulisan ini supaya aku tetap bisa percaya diri.
Namun. Aku memang memiliki pemikiran seperti ini. Aku berpikir seperti ini tanpa melihat berapa NEM di try out ku. Entah 28, atau 29 atau 30 dan 37 koma sekian sekalipun.
Kembali lagi ke Paris. Aku masih tidak paham kenapa kota itu begitu lekat di pemikiranku, kenapa kota itu bisa terus terngiang-ngiang. Kadang aku merasa, setelah aku melihat foto berbagai sudut kota Paris, maupun kota lain di Perancis, aku bisa begitu semangat. Aku sebenarnya tidak hanya mencintai Paris. Aku mencintai Perancis. Kadang Paris, Perancis, bayangan menjadi scientist dan penulis hebat seolah sebagai satu tim cheerleader yang menyoraki ku di belakang. Yang segera ingin menjadikan mereka nyata untukku. Yang menyoraki ku untuk segera belajar, tidak terus-terusan memandang timeline twitter, bermain looklet dan tumblr dan membuat tweets-tweets galau tentang seseorang disana.
Belajar. Untuk mencapai impian. Sepertinya itu akan lebih menyenangkan ketimbang : Belajar. Untuk mendapat nilai 10.
Jika 5 atau 10 tahun lagi, setelah aku mengetahui seperti apa masa depanku, dan mambaca kembali tulisan ini, mungkin aku akan tertawa. “Jadi beginilah aku saat SMP dulu. Labil, penuh impian dan imajinasi, hahaha...”
mbak nana, seseorang diciptakan dg istimewa
ReplyDeleteyou'll be a great writer someday...
keep on writing dear... you had started it
hehehe... Thank You :))
ReplyDelete