Dulu aku pernah bilang kalau... yah medsos tuh tempat pamer. Pamer apapun. Kekayaan, pengetahuan, kebahagiaan, kesuksesan. But then I got some enlightment that maybe "sharing" is better than "show off". Ketika kita menganggap seseorang itu pamer (walaupun emang ada jg yg niatnya begitu), itu adalah anggapan dari kita sendiri. Kalo kita nggak kenal orang yg post IRL, kita nggak tahu motivasi/niat dia. Mungkin dia nggak pernah bermaksud pamer.
Media sosial itu tempat sharing. Dan sejatinya, dari yang bikin, medsos nggak toxic. Toxic-enggaknya tergantung kita, usernya. Kalo follow gosip sama akun hoax ya gimana gak toxic. Kalo scroll feed terus sampe abis and doing nothing, ya toxic.
Kalau ngelihat orang lain dan langsung nyinyir, siapa tau diri kita sendiri yang toxic? Idk, kalo udah ada akun yg menurutku toxic, nggak guna dan mungkin secara pribadi mengganggu aku, I simply block, unfollow atau kalo mau alus ya dimute juga bisa kan~ (kalo di instagram nih)
Nyatanya, banyak orang yg jadi punya kesempatan lewat media sosial. Tadinya usahanya mau bangkrut, berkat medsos jadi punya wadah untuk promosi dan akhirnya bertahan. Medsos bisa mempertemukanmu sama orang-orang keren. Medsos bisa bikin kamu dinotice oleh orang yg keren kalo kamu bisa posting sesuatu yang bagus dan berguna di akunmu.
"Tapi masih suka muncul postingan nggak bener kalau buka explore"
Yaaah explore itu algoritmanya dari aktivitas kita juga kok. Makin sering kepo dan ngelike yang ga bener, ya makin banyak juga tu keluar di explore.
Salah satu siasatku buat mengurangi hal negatif adalah dengan follow akun bagus sebanyak-banyaknya. Kalo aku, gak masalah following lebih banyak dr followers yg penting feedsku isinya berfaedah. Walau yg receh jg banyak wkwk. Pokoknya I do follow anything that inspire, educate and entertain me. Simpel.
Well social media is man-made. Simply, they are robot. We can control them.
Is social media toxic? Or maybe it is you?
@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1918
No comments:
Post a Comment