Friday, January 04, 2019

Bukan Tanggal Merah

Hari ini 1 Januari 2019.
Buat sebagian besar orang, mungkin ini hari libur yang baik. Beberapa masih belum bangun setelah menikmati malam tahun baru, beberapa lainnya sedang mengumpulkan energi dan mempersiapkan diri untuk memulai tahun 2019 dengan lebih baik.

Tentunya banyak yang sedang berkumpul dengan orang-orang tersayangnya, menikmati libur awal tahun. Tetapi 1 Januariku bisa dibilang cukup melelahkan. 31 Desember lalu, party plannerku dipercaya untuk mendekor acara tahun baru di salah satu cafe di Semarang. Jujur saja ini menjadi batu loncatan dan awal tahun yang baik untuk usaha party plannerku.

Party plannerku dikelola oleh tiga orang saja, termasuk aku. Semuanya perempuan. Dari persiapan hingga eksekusi semua kami lakukan bertiga. Ini salah satu dekor ter-melelahkan. Kami bekerja cukup berantakan tapi kami pastikan semua sudah sesuai dengan kesepakatan dengan client. Di tanggal 31 kami mulai mengerjakan dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore... tapi tunggu, sebetulnya bukan cerita ini yang ingin ku ceritakan lebih jauh.

Aku ingin bersyukur karena lagi-lagi dipertemukan dengan orang baik. Sebut saja Ko E. Ko E itu owner cafe yang aku dekor. Sejak awal pertemuan dengan Ko E, aku merasa segan dan sangat overthinking dengan pekerjaan ini. Tentu karena ini kepercayaan yang tidak main-main dan banyaknya hal yang harus diselesaikan oleh tiga orang saja.

Di 1 Januari, kami juga mendapat... lumayanlah sesuatu yang menguji iman untuk nggak berkata kasar. Siang harinya kami datang ke cafe untuk membereskan dekorasi. Saat sampai ternyata banyak sekali properti dekorasi yang hilang. Kami panik. Manager cafe mengatakan "Cuma itu aja mbak yang saya tau. Kalo mau tau lagi nanti tunggu saya cek cctv dulu. Tapi nggak bisa sekarang."

Dylla menyuruhku menghubungi Ko E untuk mengabarkan kehilangan ini. Tapi aku lagi-lagi masih merasa segan. Takut mengganggu dan takut terlalu banyak meminta. Yup! That's one thing I need to fix in 2019. Less overthinking hahaha.

Alhamdulillah... menjelang Maghrib aku dikabari oleh Ko E kalau barang-barang kami sudah ketemu. Tanpa pikir panjang aku mengegas motor kembali ke cafe tadi dan mengambilnya sendiri. Setelah sampai rumah aku segera berterima kasih dan meminta maaf ke Ko E takut merasa dekorasi kami kurang memuaskan.

"Terimakasih sekali lagi ya ko, maaf juga ya ko kalau kami ada salah-salahnya🙏🏼"
Tulisku di whatsapp.

"Nggak ada... udah aman semua 👌"
"Besok2 kalo butuh dekor lg ta contact ya"

Seketika aku sebahagia itu...
Bahaagiaaaa sekali.
Kadang kita sering men-judge appearance dan seseorang hanya dari satu tatapan.
Waktu ketemu Ko E pertama kali, banyaaakk sekali pikiran-pikiran di otakku.

Ternyata dia sebaik itu!
Jauh lebih baik dari pemikiranku pertama kali. Yhaa begitulah kita.
Seringkali kita memberi cap ke seseorang yang sama sekali nggak kita tahu.
Apalagi di era yang semua-semua "liat instagram aja", kita makin rajin memberikan judgement tanpa tahu yang sebenarnya.

Kita nggak pernah tau rasa kelaparan dibalik orang-orang yang kita bilang "gendut".
Kita nggak pernah tau rasa tertekan dan nggak mau keluar rumah dibalik orang-orang yang kita bully.
Begitulah~

Di 1 Januari ini aku belajar untuk lebih menghargai setiap orang yang ku temui. Bahwa semua orang punya kisah yang kita nggak tahu. Bahwa semua hal akan ada sisi putihnya. Dan yang penting...

Bahwa kita harus selalu berbuat baik❤

@30haribercerita #30haribercerita #30HBC19 #30HBC1901

No comments:

Post a Comment